
Jamu tradisonal merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang masih bertahan di tengah perkembanagan modernisasi. Praktik peracikan dan konsumsi jamu tidak hanya mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga kesehatan, tetapi juga menjadi representasi pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Wawancara dilakukan dengan salah seorang peracik jamu tradisional menunjukkan proses pembuatan jamu seperti kunyit asem, beras kencur, dan uyup-uyup masih dipertahankan, baik dari segi bahan, teknik, dan sebagainya.
Ibu Nur, selaku naraumber menjelaskan bahwa jamu yang biasa dibuat yaitu kunyit asem, beras kencur, daun sirih, paitan, sambiloto, serta uyup-uyup. Bahan yang digunakan berasal dari rempah alami, antara lain kunyit, asam jawa, kencur, jahe, gula merah, garam, dan air matang. Selain itu, beberapa jenis jamu juga menggunakan temulawak, cabai puyang, temu ireng, dan daun pepaya yang dikenal berkhasiat untuk memperkuat daya tahan tubuh dan melancarkan metabolisme.
Proses pembuatan jamu masih dilakukan secara tradisional dengan peralatan sederhana seperti tumbukkan batu dan periuk tanah liat. Narasumber juga menyebutkan bahwa penggunaan blender modern dianggap mengurangi kesegaran rasa, sehingga alat tumbuk tradisional masih tetap dipertahankan. Untuk tahap pembuatannya berbeda tergantung jenis jamu, namun pengolahannya serupa yaitu dengan merebus bahan alami hingga menghasilkan sari yang kemudian disatukan dengan pemanis alami seperti gula merah. Berikut proses pembuatan jamu:
a. Beras Kencur
Beras digoreng tanpa minyak hingga setengah matang, kencur dan jahe disangrai sebentar agar aromanya keluar. Setelah itu beras dan kencur dimasukkan ke alat tumbuk dan ditumbuk sampai halus, kemudian disiram dengan air matang dan diperas hingga menghasilkan warna putih kekuningan. Selanjutnya pada tahap perebusan, gula merah direbus terpisah bersama sedikit garam, kemudian dicampur dengan perasan beras kencur setelah suhunya menurun agar tidak mengental sebagai bubur.
b. Kunyit asem
Kunyit segar direbus terlebih dahulu hingga empuk. Menurut narasumber, kunyit yang direbus terlebih dahulu menghasilkan rasa yang lebih segar. Kunyit kemudian ditumbuk dan diperas. Hasil perasan kunyit dicampur dengan air asam jawa dan gula merah yang telah direbus. Setelah itu campuran diaduk hingga merata dan disajikan pada suhu normal.
c. Uyup-uyup
Jenis jamu ini dibuat dari temulawak, cabai puyang, sambiloto, dan daun pepaya, yang direbus bersama hingga menghasilkan cairan kental beraroma tajam. Jamu ini diyakini dapat memperlancar produksi ASI serta menjaga kebugaran tubuh ibu menyusui.
Narasumber menjelaskan bahwa setiap jenis jamu memiliki khasiat sebagai berikut:
a. Kunyit asem memiliki fungsi untuk melancarkan peredaran darah, terutama bagi perempuan saat menstruasi, dan membantu mengurangi rasa nyeri pada perut.
b. Beras kencur memiliki fungsi untuk menyegarkan badan, meredakan btuk, dan menjaga daya tahan tubuh
c. Uyup-uyup memiliki fungsi untuk membantu melancarkan ASI dan memperbaiki metabolisme ibu pascamelahirkan.
Meskipun gaya hidup modern sering kali menggeser kebiasaan minum jamu, narasumber menyatakan bahwa permintaan terhadap jamu tradisional masih cukup tinggi. Hal ini terutama karena meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan alami dan efek samping minimal dari bahan herbal. Banyak pelanggan muda mengonsumsi jamu masa kini, seperti kunyit asem dingin dengan es batu, yang dianggap lebih segar dan cocok pada iklim tropis. Dengan demikian, jamu tradisional mengalami bentuk adaptasi tanpa kehilangan nilai asalnya.
Melalui wawancara dengan peracik jamu, tampak bahwa meskipun peralatan modern telah tersedia, masyarakat tetap mempertahankan cara-cara tradisional karena diyakini memberikan cita rasa dan khasiat yang lebih baik. Tidak hanya itu jamu juga mencerminkan identitas komunitas kearifan lokal, dan cara pandang masyarakat teradap tubuh, alam, dan kehidupan yang seimbang.
