Padukuhan Gejayan : Dari Anggajaya menjadi Gejayan

August 15, 2025

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Sri Sultan Hamengku Buwana I sangat terkenal sebagai seorang raja yang bijaksana dan ahli strategi. Ketika permusuhan Mataram de- ngan Belandaberakhir damai, tidak berarti beliau berhenti membenci bangsa asing tersebut. Bahkan pihak Belanda sendiri mengakui bahwa perang me- lawan pemberontakan Pangeran Mangkubumi (sebelum diangkat menjadi HB I) adalah perang terberat yang pernah dihadapi VOC di Jawa dalam kurun waktu 1619 – 1799. Hamengku Buwana I pernah mencoba memperlambat keinginan Belanda untuk mendirikan sebuah benteng di lingkungan keraton Yogyakarta. Beliau juga berusaha keras menghalangi pihak VOC untuk ikut campur dalam urusan pemerintahannya.

Pendukung Pangeran Diponegoro

Rasa benci terhadap musuh diwariskan kepada putera-puteranya. Salah satu putera tersebut adalah Bendoro Pangeran Hangabehi. BP Hangabehi lahir dari garwa bernama BR Tilarso. Dia kakak HB II lain ibu. Dikenal sebagai pangeran yang gagah berani. Maka ia diberi jabatan sebagai kepala pasukan di Kerajaan Mataram. Seperti ayahnya, BP Hangabehi gigih dan gagah berani sebagai kepala pasukan melawan Belanda.

Dalam suatu peperangan pasukannya banyak yang terluka parah. Maka dia menarik mundur sementara dari medan perang dan lari menuju kaki Gunung Merapi. Rombongan prajurit itu menembus hutan belantara yang banyak terdapat pohon besar dan tinggi. Mereka beristirahat sejenak di bawah salah satu pohon joho yang terbesar dan rimbun. Dalam pelarian- nya, BP Hangabehi berpikir bahwa tempat tersebut aman dan bisa dipakai sebagai pemukiman sementara. Beberapa waktu kemudian perlawanan terhadap Belanda dilanjutkan oleh puteranya yang benama Raden Mas Jalmi. Kelak dikenal sebagai Panembahan Brajamusti.

Raden Mas Jalmi (Brajamusti) sangat dekat dengan Pangeran Diponegoro putera sulung Hamengku Buwana III. Ia selalu membantu sepupunya tersebut dalam berperang melawan Belanda. Termasuk saat Pasukan Pangeran Diponegoro hendak menghadang pasukan Belanda yang datang dari Magelang. Brajamusthi senantiasa setia mendampingi. Pasukan mereka sempat melewati jalur tempat persembunyian ayah Brajamusti yang sedang mengobati para prajurit yang terluka. Jalur tersebut yang dipakai untuk menghadang lawan dan tembus hingga Kaliurang.

Kyai Anggajaya

Memang tak dapat dipungkiri. Akibat perang tersebut, tercatat penduduk Jawa banyak yang tewas dan luka-luka. Termasuk para prajurit di bawah pimpinan Brajamusthi. Bahkan Brajamusthi juga mengalami luka parah saat itu. Ia diselamatkan oleh ayahnya sendiri, BP Hangabehi. Brajamusthi dibawa kembali ke tengah hutan belantara tempat persembunyian ayahnya. Juga merupakan jejak jalur rahasia Pangeran Diponegoro ketika menghadang Belanda yang datang dari Magelang.

Salah seorang pengawal setia Brajamusti bernama Kyai Joyoilani. De- ngan telaten Kyai Joyoilani merawat dan melindungi junjungannya itu hingga Brajamusti meninggal dunia. Panembahan Brajamusti lalu dimakamkan di tempat persembunyiannya. Makam tersebut sekarang berada di Padukuhan Gejayan.

Seiring berjalannya waktu, Kyai Joyoilani sering pula disebut Kyai Anggajaya. Bersama pasukannya yang telah sembuh ia membuka hutan belantara tempat persembunyiannya itu sebagai pemukiman baru. Maka para prajurit yang telah sembuh bergotongroyong, mereka membuka lahan persembunyian tersebut menjadi tempat pemukiman. Makin lama makin banyak orang yang datang dan bermukim di situ.

Sering pula ada utusan dari keraton datang untuk mengirim bahan makanan atau obat-obatan ke tempat tersebut. Atau hendak nyekar. Mereka selalu mengatakan mau ke ‘Anggajayan’. Lama kelamaan karena lidah Jawa sering menyingkat sebuah kata, maka muncullah nama ‘Nggejayan’. Kemudian oleh Kyai Joyoilani atau Kyai Anggajaya nama pemukimnan baru yang mereka tempati diberi nama Gejayan.

Ketika Kyai Anggajaya meninggal dunia, dia dimakamkan di samping makam Panembahan Brajamusthi. Kedua makam tersebut hingga kini masih terawat dengan baik bahkan diberi pagar pembatas. Keberadaan kedua makam menunjukkan para keluarga keturunannya sering berziarah untuk mengirim doa dan nyekar.

Jadi Nama Padukuhan

Menarik, sebuah padukuhan memiliki asal usul yang lekat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Apalagi nama tersebut merupakan salah satu putera dari Hamengku Buwana I, seorang raja yang mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 10 November 2021 oleh pemerintah Indonesia. Kyai Joyoilani atau Kyai Anggajaya tercatat sebagai orang pertama yang membuat pemukiman dengan nama yang diambil dari namanya sendiri: dari Anggajaya menjadi Gejayan.

Nama Anggajaya kini dipakai sebagai nama jalan. Ada Anggajaya I, II, dan III agar penduduk Gejayan selalu mengenang orang yang paling berjasa atas terbentuknya Padukuhan Gejayan.

Saat ini Padukuhan Gejayan dipimpin oleh Bapak Nuryanto (52 tahun) yang merupakan dukuh ketiga. Dia memimpin Padukuhan Gejayan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Dukuh pertama bernama Pawiro Widodo menjabat pada tahun 1946 sampai dengan tahun 1947. Kemudian dilanjutkan oleh Dukuh kedua Bapak Tarsisius Murwantono (ayah Bapak FA Suradi) menjabat pada tahun 1948 sampai dengan tahun 1993.

 

Pembuat Artikel: Maria Widy Aryani
Tenaga Ahli Penulis: M. Budi Sarjono
Foto: Maria Widy Aryani