Tradisi wiwitan merupakan salah satu bentuk ritual pertanian yang masih dikenal masayarakat. Tradisi ini berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur atas datangnya masa panen serta bentuk penghormatan terhadap alam, terutama lahan pertanian yang telah memberikan hasil bagi masyarakat. Meskipun saat ini praktik wiwitan sudah mulai jarang dilakukan, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih hidup dalam ingatan kolektif warga setempat.
Istilah wiwitan berasal dari bahasa Jawa “wiwit” yang berarti “memulai” atau “permulaan”. Dalam konteks pertanian, wiwitan menandai saat dimulainya masa panen. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk permohonan agar hasil panen melimpah, tidak banyak yang terbuang, serta terhindar dari gangguan baik secara alami maupun spiritual. Dalam beberapa tuturan, masyarakat juga menyebut kegiatan ini sebagai lewitan, yang dilakukan di area persawahan, tepatnya di tepi galengan (pematang sawah). Pelaksanaan dilakukan secara sederhana, biasanya oleh pemilik lahan bersama beberapa warga lain, anak-anak, dan seorang tokoh agama atau rois yang memimpin doa.
Ritual wiwitan umumnya dilaksanakan di sawah yang akan dipanen, tepat di area galengan atau di tepi jalan menuju lahan pertanian. Waktu pelaksanaan biasanya sore hari setelah salat Asar, dengan pertimbangan cuaca yang teduh dan kondisi ladang yang sudah siap dipanen. Jika turun hujan, kegiatan biasanya ditunda hingga kondisi memungkinkan. Tradisi ini bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan kesiapan panen tiap petani, sehingga pelaksanaannya tidak selalu serentak dalam satu padukuhan.
Adapun pelaksanaan wiwitan dilakukan secara sederhana namun sarat makna simbolik. Berdasarkan keterangan narasumber, urutan kegiatan umumnya sebagai berikut:
a. Persiapan dan Pengumpulan Bahan:
Masyarakat menyiapkan sesaji berupa nasi, lauk sederhana seperti teri, jajanan tradisional, dan bahan makanan pokok lain. Peralatan yang digunakan meliputi arit (alat panen), peter, serta perlengkapan makan sederhana.
b. Doa dan Pemotongan Simbolis:
Prosesi dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pak Rois, tokoh agama setempat. Doa diucapkan untuk memohon keberkahan atas hasil panen dan keselamatan bagi petani. Setelah doa selesai, dilakukan pemotongan simbolis beberapa tangkai padi pertama oleh rois sebagai penanda dimulainya masa panen.
c. Pembagian dan Konsumsi Makanan:
Setelah prosesi doa dan pemotongan padi, makanan yang telah disiapkan dibagikan kepada anak-anak dan warga yang hadir. Sebagian dimakan bersama di tempat, sebagian lainnya dibawa pulang sebagai bentuk berbagi rezeki.
Ritual ini menegaskan nilai gotong royong dan kebersamaan, sekaligus memperlihatkan bentuk sederhana dari rasa syukur masyarakat terhadap hasil pertanian.
Makna utama dari wiwitan terletak pada konsep syukur dan keseimbangan antara manusia dan alam. Masyarakat memahami bahwa hasil pertanian tidak hanya diperoleh melalui kerja keras manusia, tetapi juga karena izin dan berkah dari Tuhan. Oleh karena itu, sebelum kegiatan panen dimulai, petani merasa perlu untuk “meminta izin” kepada alam dengan cara ritual simbolik ini. Tradisi wiwitan juga merepresentasikan nilai spiritual agraris masyarakat Jawa, yang meyakini bahwa bumi dan tanaman memiliki roh kehidupan yang perlu dihormati. Dengan demikian, ritual ini bukan sekadar prosesi sosial, tetapi juga sarana menjaga harmoni kosmologis antara manusia, tanah, dan kekuatan ilahi.
Berdasarkan penuturan informan, praktik wiwitan kini sudah jarang dilakukan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan, beragamnya status kepemilikan tanah, serta menurunnya jumlah petani aktif di wilayah Joho dan sekitarnya.
